Minggu, 21 Desember 2014

UNLESS (Ketika Cinta Membunuhmu) for GRAMEDIA WRITING PROJECT





HAK CIPTA ATAS NAMA MARIA VICIENZA

- Dilarang mengcopy paste tanpa seijin penulis -


I

 Namira masih ingat dengan jelas saat dimana ia berdiri disamping ayahnya dengan mata yang memancarkan kebekuan tak terbantahkan. Suasana sepi terlalu menusuk batinnya, membuat ia bergerak-gerak gelisah. Lelaki yang ia panggil ayah itu terlalu kaku untuk memulai pembicaraan. Ia menginginkan tatapannya berbicara terlebih dahulu pada anak gadisnya, sebelum memutuskan untuk buka suara.
“ Hentikan hobi konyolmu, “ desisnya tertahan. Manik matanya menangkap ekspresi terkejut yang terlalu kentara. Gestur anak gadisnya seakan mengisyaratkan ketidakpercayaan atas pendengarannya.
“ Ayah bilang, hentikan hobi konyolmu Namira Astarea Atmara! “ suara pria tua itu naik satu oktaf. Dahinya mengkerut, seakan mencoba menggambarkan bertapa rumit pikirannya sekarang. Anak gadisnya memilih menjadi seorang fotografer terdengar seperti ide gila yang berbuah bencana dalam keluarganya.
“ Sebenarnya, apa mau ayah? “ akhirnya gadis itu buka suara. Kedengaran sedikit bergetar, namun dengan cepat ia kuasai. Gadis itu harus tetap kuat, setidaknya sampai kakinya memijak ubin marmer yang bukan lagi bagian dari ruangan ini.
“ Kau tau, ayah sangat terpukul dengan kepergian Elnino, “ ucapannya menggantung sejenak, membiarkan detik demi detik bergulir tanpa mampu dicegah. Laki-laki tua itu masih menyimpan sesuatu yang dikuburnya dalam-dalam. Kekecewaannya, ambisinya. Ia terlalu bijak untuk melontarkannya dan membuat dunia tahu semuanya.
“ Mira tahu, bahkan sangat tahu. Ayah begitu terpukul ketika kehilangan pewaris takhta, bukan?. Anak lelaki ayah satu-satunya, pergi dengan tidak hormat. Aku bahkan masih ingat raut wajah ayah saat itu. Kecewa karena ambisi ayah tak mampu tersalurkan dengan baik. Apa aku salah, ayah? “ pertanyaan sarkastiknya mampu membangkitkan amarah pria itu. Sayang sekali, anak gadisnya terlalu terlatih membaca sifat dan menebak arah pembicaraannya. Kebiasaanya membiarkan mereka mengerti dan mencerna dalam diam, pelan-pelan mulai ia sesali.
“ Bicara apa kau, Mira? Seakan kau mengerti perasaan ayah. Ini hanya perasaan normal seorang ayah yang ditinggal pergi anaknya. Capmu terlalu buruk, Trea Atmara! “
Tubuh gadis itu menegang. Ia tak percaya, sang ayah akan memanggilnya dengan sebutan itu, lagi. Kenangan yang coba dikuburnya perlahan seakan naik ke permukaan, meruntuhkan tembok pertahanan yang dibangunnya selama ini. Ia benci panggilan itu. Trea Atmara. Rasanya, ia ingin menanggalkan nama itu. Menggantinya dengan nama yang lebih baik. Nama itu terlalu hina. Terlalu menjijikkan.
“ Berhenti memanggilku Trea! “ gadis itu berteriak marah saat egonya diusik.
“ Kenapa? Apa karena, “ pria itu tersenyum sinis kemudian meludah jijik ke dalam satu-satunya pot tanaman hidup dalam ruangannya.
“ Kau bahkan lebih menjijikkan!. Seratus lima puluh persen lebih menjijikkan darinya. Seharusnya aku tahu, pilihanku salah. Dan kau, tak pantas ku panggil ayah. Permisi tuan Atmara “ gadis itu melangkah pergi sembari menyeret tas selempangnya yang putus dengan tidak hormat saat itu juga.
“ Dan soal hobiku, kau tak usah mengurusinya. Urusi saja dirimu dan anakmu satu-satunya. Karena sejak detik ini, namaku hanya Namira Astarea. Tanpa embel-embel Atmara di belakangnya. Terima kasih untuk tidak mencariku, sebelumnya “ gadis itu melangkahkan kakinya lebar-lebar dan menghentakkan handle pintu berkusen jati didepannya lalu membantingnya keras-keras, sekuat yang ia bisa.
“ Dia kira siapa dia. Ayah? Aku heran mengapa ia merasa pantas dipanggil begitu, “
Gadis itu masih menyeret tasnya yang putus sebelum bahunya menabrak bahu milik orang lain. Keduanya sama-sama terhengkang kebelakang, kemudian berpegangan pada masing-masing benda yang dapat dijangkau secepat mungkin lalu mencoba bertumpu padanya.
“ Kamu mau kemana? “ desis suara didepannya. Lembut, seakan menggambarkan pemiliknya yang tanpa cacat.
“ Bukan urusanmu! “ dengusnya sembari menyeret tasnya lagi. Tanpa sadar bahunya mulai tergunjang pelan.
Ia menangis. Akhirnya.
***

Mata gadis itu menerawang jauh ke luar sana. Entah pada jalanan yang basah, dedaunan yang menghijau, atau pada satu dua manusia yang lewat dengan payung aneka warna ditangan masing-masing. Batok kepalanya seakan tak cukup besar menampung semuanya. Ia terlalu sering melamun, lalu tersentak kaget dengan senyum tipis tak kentara. Seperti sekarang, wajahnya menekuk aneh dengan bibir yang digigit dibagian ujung, seakan menciptakan gestur khas darinya.

“ Silahkan dinikmati “

Gadis itu mengernyitkan dahi, memutar bola matanya tanda jengah, pada sosok berseragam merah marun di depannya. Ia mengangguk kemudian mengalihkan pandangannya lagi. Tenggelam pada dunianya sendiri. Ia tak begitu gemar melakukan komunikasi singkat seperti tadi. Hanya anggukan yang dirasa cukup menggantikan kata terima kasih. Mungkin kesendirian mengajarkannya bagaimana cara untuk menggunakan bahasa isyarat. Tidak. Dia tidak bisu, hanya berpura-pura bisu pada keadaan. Lebih baik begini, begitu pikirnya.

“ Ini bukan pesananku. Saya pesan Kopi Solong, bukan Cappucinno. Maaf, tapi tolong ganti dengan pesanan saya. Lima belas menit untuk secangkir Kopi Solong! “ ujar gadis itu setelah menyadari aroma lain yang menguar dari cangkir porselen di depannya.

Lidahnya begitu terlatih saat mengucap nama salah satu jenis kopi Aceh tersebut. Ada sensasi aneh yang selalu ia dapatkan dari jenis minuman itu, layaknya candu. Rasa pahit dan panas seakan membakar tenggorokan, membuatnya melupakan masalah yang menghimpitnya sejenak. Setiap resapan seakan mengandung kenikmatan tersendiri. Bahkan ampasnya pun, terlalu sulit dilewatkan. Gadis itu tak pernah peduli ketika banyak orang beralih pada kopi instan, maupun jutaan variasi kopi aneh lainnya. Kreasi antara krim, gula, susu, ataupun green tea, tak sekalipun menggoyahkan kecintaannya pada minuman penuh ampas tersebut. Persetan dengan kata orang. Mereka selalu bilang, aku terlihat seperti sepuluh kali lipat lebih tua dari usiaku ketika meminumnya. Layaknya nenek-nenek.

“ Tapi, mbak harus bayar cappucinnonya juga “ balas sang waitress dengan wajah tertunduk. Ia tak berani mengangkat wajahnya, bahkan sekedar menatap sosok tinggi langsing didepannya.
“ Apa? Saya harus membayar sesuatu yang tidak saya pesan?. Begitu maksudmu? “ gadis itu menggeram, kemudian melangkahkan kakinya dengan angkuh ke arah meja kasir.
“ Mbak, mbak. Mau kemana? “ teriak sang waitress panik. Aura intimidasi milik gadis itu memenuhi atmosfer, mengisyaratkan bahaya.
“ Saya mau ketemu manager kamu. Ternyata cafe ini punya karyawan tolol juga. Saya akan membuatmu..., “ ucapan gadis itu terhenti seketika saat tangannya, secara tak sengaja menyenggol kemeja putih milik seorang pria yang tampak terburu-buru.
***

 “ Maaf, saya tidak sengaja “
“ Punya mata? Dipake dong, mbak!. Jadi kotor kan, baju saya “

Lelaki itu menggerang frustasi sembari menghempaskan tubuhnya keatas sofa beludru di sisi kiri. Tatapan yang menghujam khas elang seakan mengintimidasi gadis di depannya. Ia sedang berusaha membersihkan tumpahan cairan berkafein yang tanpa sengaja ikut mengenai kemejanya. Sang gadis hanya tertunduk, seakan tak sanggup menatap pria bermata elang itu. Bukan karena takut, lebih karena rasa malu yang membuncah hebat dalam dadanya. Walaupun terlihat jelas, nyalinya ciut seketika ketika si pria kembali membuka mulut, namun dengan ekspresi kemarahan yang tergambar amat jelas didalamnya.

“ Mata lo minus berapa sih? “ lanjut sang pria setelah terdiam cukup lama.
“ Maaf, mas. Nanti saya ganti, kok “ sahut gadis tanpa melirik pria disebelahnya.
“ Nanti? Emang kapan kita ketemu?. Gue gak berani jamin lo masih mau ketemu gue cuman buat ganti rugi “ cibir pria tersebut sambil berdiri dan mengambil pemantiknya yang tertinggal diatas meja.
“ Mas, saya bukan orang yang tidak bertanggung jawab! “ gadis itu buka suara sembari menarik beberapa lembar uang seratusan dari balik dompet warna peach di dalam tasnya.
“ Ini, ganti ruginya. Saya, “

Kalimat gadis muda itu terhenti saat melihat sosok pria itu berjalan menjauh dan menggangkat tangan kanannya, seakan tak menuntut ganti rugi. Namun sang gadis terlanjur dongkol dibuatnya.

“ Sok banget tuh orang! Cihh, “
***

Namira memarkir mobil Honda Jazznya asal, kemudian keluar lalu membanting pintu dengan keras sambil berusaha menyeret kakinya yang seakan dihisap bumi. Pikirannya sedang kacau. Ribuan peristiwa buruk seakan menghantuinya sejak kepulangannya ke Indonesia. Ia tak pernah merasa sekacau ini. Dicerca habis-habisan, dimarahi, lalu dipermalukan dalam sehari. Bagaimana mungkin ia mampu menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang?. Rasanya, bahagia terlalu sulit digapai.

“ Jelek banget muka lo! “ teriak Nanira yang sedang sibuk dengan setumpuk berkas ditangan kirinya.
“ Sok tahu. Gue lagi bahagia banget malah! “ sahutnya malas, terkesan seperti ironi yang memilukan.
“ Bahagia? Bohong banget. Orang buta aja tahu muka lo sebelas dua belas sama setrikaan yang ditumpuk setahun. Kenapa sih, Mir? Cerita sini, dong “ Nanira tak akan berhenti sebelum keinginannya terpenuhi. Benar-benar tipikal manusia tak pantang menyerah.
“ Cerita apa? Perlu banget ya, Nir gue cerita soal cowok brengsek yang sok keren? Perlu banget gue cerita semenderita apa gue di sini? “ Namira mendengus dan beranjak dari tempatnya berdiri. Ia kehilangan setengah kesadarannya. Kepalanya seakan ingin meledak. Realy bad day!.
“ Ciehh, yang baru seminggu udah ketemu cowok keren! Cihuyy “ goda Nanira sambil menirukan gerak ala cupid yang menembakkan panah asmara.
“ Keren dari Hongkong! Udah ahh, capek gue. Mau mandi dulu, gerah! “ jawab Namira tak peduli. Diseretnya kaki yang tak mau melangkah, menaiki hampir dua belas anak tangga ke lantai atas.
“ Nanti sore jadi kan nemenin gue, Mir? “ tanya Nanira.

Tak ada jawaban. Namun ia tahu, saudaranya pasti meyanggupinya. Nanira tersenyum senang saat melirik foto masa kecilnya bersama Namira.

Makasih, Mir udah mau balik ke Indonesia. Gue gak tau bakal gimana lagi tanpa lo.
***

Gadis itu masih berkutat dengan gulingnya. Alunan musik instrument Forever in Love memenuhi atmosfer. Ia terlalu mendewakan Kenny G yang entah mengapa selalu tampak keren jika memainkan alat musik tiupnya.

“ Mir, Mira. Bangun dong, udah sore nih. Lo udah janji kan mau nemenin gue? “

Seorang wanita berusia awal dua puluhan menerobos masuk, mematikan Ipod warna biru metalik dengan aksen glitter perak yang berdiri begitu tegak diatas rak coklat tua penuh buku. Ia tersenyum hangat, menyibakkan hampir separuh selimut putih yang masih membungkus rapat tubuh mungil didalamnya.

“ Ra, gue gak tau ternyata lo semenyebalkan ini! “ erang sang gadis sambil melepaskan separuh selimut yang masih melilit tubuhnya. Ia berjalan mundur kemudian meraih gagang pintu kaca di depannya, lalu masuk.
***

Aku masih melirik wanita disampingku ini. Dengan dress hijau muda selutut dan belt hitam yang melingkari pinggangnya membuatnya terlihat begitu anggun. Ia hampir membuatku menelan ludah saking irinya. Miris memang! Ia kembaranku namun nyatanya kami benar-benar berbanding terbalik. Aku, seorang Namira Astarea. Tak ada yang begitu istimewa dariku. Aku ya aku, begitu pikirku. Hanya seorang gadis yang beruntungnya hidup di abad ke-21 namun tidak tahu bagaimana caranya memakai maskara serta seluruh kerabatnya yang lain. Dan tentu saja, aku penikmat kopi pahit sejati! Selera yang aneh memang. Namun aku begitu mencintai aroma kopi hitamku yang berampas.

“ Kita mau kemana sih? Kram pantat gue! “ aku bersungut sambil menjentikkan jari ke permukaan dashboar mobil, berharap cemas kalau-kalau ada laci tersembunyi yang terbuka dan dengan amat sangat kebetulan berisi makanan. Hey! Aku belum makan dari siang tadi!.
“ Nira! Gue laper. Stop dulu dong. Di McDonals kek, KFC kek, apa kek. Perut gue konser mulu nih! “ aku berteriak putus asa sambil melirik Namira yang tak ambil pusing –lebih kejamnya berpura-pura tak perduli- sedang melajukan mobil tanpa berusaha melirikku, sedikitpun!.
“ Bentar lagi nyampe kok. Nah, itu dia “ teriak Namira girang.

Mobil kami memasuki lapangan parkir yang tidak luas, namun kurasa cukup untuk menampung 20 mobil seperti mobil milikku ini. Setidaknya, para pengunjung tidak mungkin membawa truck guna memuat seluruh anggota keluarga mereka untuk makan bersama.

“ Lo yang traktir ya! Awas lo! “

Setelah mengamcam Nanira, aku pergi meninggalkannya yang masih tepaku di tempat. Converse selalu membuatku nyaman sebab ia tak perlu hak untuk menjadikannya benar-benar keren di kakiku. Mengambil tempat paling sudut, aku berusaha untuk menikmati setiap alunan nada yang keluar dari dentingan piano yang dimainkan oleh seseorang bertopi coklat muda diatas panggung kecil dekat meja kasir. Tanpa sadar, aku memejamkan mata. Indra penciumanku seakan ikut menikmati sensasi aromatherapy yang menguar hebat, wangi lavender. Aku nyaris sukses melupakan masalah yang menimpaku seharian sebelum akhirnya sebuah tepukkan pelan mendarat di bahu kananku.

“ Mir, keren banget ya. Liat tuh yang main saxophone di depan! “ aku menoleh, mengikuti pandangan Nanira yang lebih mirip anak kelinci dari pada seorang wanita karir dewasa.

Aku diam. Tanpa sadar, kepalaku bergoyang rileks mengikuti irama saxophone yang ditiup pria tadi. Jujur, aku kagum saat ia dengan gesitnya memainkan dua alat musik bersamaan. Sungguh, alunan instrumen dari Kenny G terdengar indah di telingaku. Aku tersenyum tipis, mengingat kebiasaanku memutar Forever in Love dikala rasa kantuk belum kunjung tiba dan Gotcha!. Tak kusangka makan malamku kali ini akan ditemani dengan lantunan maha karya terhebat sepanjang masa.

 “ Kau benar-benar mempesona! “ aku terdiam. Kaget. Mataku membelalak tak percaya saat saudara kembarku berdiri kemudian berlari dan menghamburkan diri ke dalam pelukan pria bertopi coklat tadi. Jujur, (menurutku) adegan tadi terkesan kekanak-kanakkan.

Mereka tidak ingin casting drama Korea kan? Kenapa Nanira harus seperti anak TK yang ditinggalkan ayahnya untuk wajib militer?.

“ Namira! Kemari, aku akan mengenalkanmu pada pria idolamu! “ aku memutar bola mataku jengah. Hey! Apa lagi ini?. Sialan! Aku rasa wajahku memerah sekarang. Bagaimana mungkin Nanira berteriak heboh seperti itu?. Aku baru saja melihat permainannya, sedikit tertarik dan dengan begitu gampangnya Nanira mengambil keputusan untuk mengumumkan kegagumanku pada pria bertopi coklat itu?. Ya ampun! Nanira sialan!.
“ Kau ini! Kenapa tidak berdiri? Gris menunggumu, Mira. Kamu benar-benar memaksa idolamu datang menemuimu rupanya, “ pekik Nanira girang sembari menarik kursi di depanku.
“ Aku tidak meng... “ ucapanku terputus saat mataku bersiborok dengan lensa coklat tua di depanku. Darahku seakan berhenti mengalir. Kakiku melemah, seakan tak mampu menopang berat tubuhku. Kenapa harus sekarang?.
“ Kau! “ tunjuk kami bersamaan. Aku jatuh terduduk dengan cara yang memalukan, dengan wajah khas orang speechless, mata membelalak lebar dan mulut yang menganga maksimal seakan minta di hinggapi lalat.
“ Kenapa kau bisa di sini? “ jari telunjuknya diarahkan tepat pada wajahku. Alisnya saling bertaut, menuntut penjelasan lebih.
“ Bagus! Aku diposisikan sebagai orang yang akan diinterogasi. Hey, boy! Berhentilah bertingkah seakan-akan tatapanmu mampu mengintimidasiku. Seharusnya itu pertanyaanku! Mengapa kau bisa di sini? Bergabung dan merusak acara makan malamku dengan saudaraku, hah?  “ ucapku sinis. Beraninya dia menatapku seperti itu. Seakan akulah orang asing yang harus dipertanyakan keberadaannya, kemudian ditendang keluar.
“ Saudaramu?. Nanira, tolong jelaskan padaku. Tidak mungkin singa betina ini saudaramu! “ kini gantian ia yang melongo heran.
“ Tidakkah wajah kami sudah cukup menjelaskan semuanya?. Kalau begitu aku permisi! “ aku berteriak kasar sembari mengambil I-Podku diatas meja dan keluar begitu saja.

Dasar pria brengsek! Sialan. Apa maksudnya dengan julukan “ Singa Betina “?. Apa Nanira terlihat begitu anggun layaknya kupu-kupu?. Apa wajahku terlalu buruk untuk disandingkan dengannya?.

Air mataku menetes. Ini hal yang seharusnya ku hindari.

Ya, tidak seharusnya aku di sini. Ini bukan tempatku dan Nanira bukanlah tandinganku.

Entah mengapa, rasanya aku mulai merindukan London.
***

Aku meledak. Benar-benar meledak sekarang. Satu sepakkan dari Converse kesayanganku ini mampu memporak-porandakan seluruh isi tong sampah di depanku. Isinya tumpah ruah. Dua ekor kucing, entah betina atau jantan, berlari menjauh sambil memperdengarkan raungan melengking seakan memakiku yang telah dengan kejamnya merenggut waktu santap malam mereka. Masa bodoh!. Aku manusia dan aku berkuasa.

“ Itu tong sampah hasil swadaya masyarakat. Dan kucing itu, apa mereka bersalah padamu? “ aku mendelik kesal saat mendengar suara berat yang terkesan serak di belakangku. Berbalik dengan tatapan jengkel maksimal, kutatap tubuh jangkung yang sedikit kurus di depanku. Bayangannya seakan bersatu dengan pekatnya malam.
“ Dan apa masalahmu? Kau tuannya?. Ohh, seharusnya kau mengurusi peliharaanmu itu! jorok sekali! “ aku memaki pria di depanku ini. Wajahnya tak begitu kentara. Aku terlalu malas mendongkakkan kepalaku demi menatap pria ini. Tinggiku tak lebih dari bahunya.
“ Namira? Namira Astarea, kan? “ aku mundur selangkah. Terkejut saat namaku di sebut.
“ Atau aku salah?. Gak mungkin kamu Nanira. Right? “ aku tersenyum masam. Lagi-lagi Nanira. Semua orang selalu fokus padanya. Aku hanya dijadikan selingan. Bahkan, pria tiang listrik ini juga membawa nama Nanira. Entah sampai kapan aku harus hidup di bawah bayang-bayang saudara kembarku sendiri. Aku muak!.
“ Maaf. Jika anda ingin menyampaikan salam untuk Nanira, aku bukanlah tukang pos atau sejenisnya. Permisi dan maaf soal kucing anda. Lupakan, aku memang bukan Nanira yang selalu berbicara lembut pada lawan bicaranya! “

Aku berlari kecil menyusuri lorong sempit ini. Tak terasa mataku memanas dan pandanganku mengabur. Aku berhenti, bersandar pada tembok kasar yang penuh lumut kering. Kutarik napas perlahan, mencoba meredakan sakit yang menghujam hatiku. Kembali terisak, kupandangi langit malam tanpa bintang.

“ Kayaknya bentar lagi hujan deh, “ aku terdiam saat mendengar suara itu kembali menyapaku, ikut bergabung dalam kesendirianku. Tangannya dijadikan alas kepala, ia tak menatapku. Matanya masih memandang langit hitam pekat yang menggantung tanpa ujung diatas sana. Semilir angin dingin menerpa wajahku. Benar, sepertinya orang ini pawang hujan. Aku merubah arah pandanganku ke bawah dan menatap kakinya yang disilangkan. Sedikit terbersit rasa haru, saat melihat sepatu yang dikenakannya persis seperti punyaku, hanya saja dengan ukuran yang tentu saja berbeda.
“ Sampai kapan kamu lari dari kenyataan, Mir? “ lanjutnya. Suaranya berubah pelan, seakan takut menyinggungku. Dan benar saja, tujuan awalnya berhasil. Aku sukses dibuatnya tersinggung!.
“ Siapa kau sebenarnya?. Jangan sok kenal! “ aku berhenti menyandarkan tubuhku di tembok dan memberanikan diri menatap manik matanya. Aku tersentak kanget.
“ Devan? Kamu Devano Tamayada? “ suaraku tercekat saat mendapati sosok itu. Sosok yang membawaku kembali kedalam masa penuh penderitaan.
“ Selamat datang kembali, Namira Astarea, “ ucapnya merengkuhku. Sementara aku hanya diam tak bergeming.

***

Desain interior cafe seakan mampu mengalihkan kegusaran Nanira sejenak. Gadis itu masih mengamati dekorasi cafe yang modern dan tenang. Tembok dengan gabungan antara warna peach yang dikolaborasikan dengan citrus orange menjadi tempat pelampiasannya. Matanya masih menelisik setiap benda di dalam ruangan lebar tempat kakinya berpijak sebelum manik matanya berhenti pada satu titik yang bergitu menguncinya. Mata pria itu.

“ Maafkan aku. Jujur, aku tak bermaksud menyakiti saudaramu. Aku hanya tidak percaya akan kebetulan yang kualami. Dunia terasa begitu sempit. Sekali lagi, maaf. Kau tahu dengan benar diriku yang sebenarnya, “ lelaki didepannya melepas topi coklat yang sedari tadi melekat dengan manis di kepalanya, menutup hampir separuh kepalanya.
“ Ya, aku tahu. Kau tidak perlu merasa bersalah. Aku yang salah. Tidak seharusnya kupaksa dia untuk bergabung malam ini dan membuat semuanya serba kacau. Seharusnya aku yang minta maaf telah membuatmu merasa terhina seperti ini, Gris“ ujar Nanira sembari meremas lipitan dress hijau toscanya. Perpaduan antara rasa gugup, cemas, gelisah, malu, serta berbagai rasa yang seakan tak mampu dideskripsikannya dengan baik, melingkupi perasaannya. The bad satnight ever, keluhnya dalam hati.
“ Apakah ucapanku menyinggungnya?. Ia terlihat benar-benar marah tadi. Aku menyesal, Nanira. Aku memanggilnya dengan sebutan yang tidak pantas. Maaf, jika saja aku tahu yang menumpahkan kopi ke bajuku beberapa hari lalu adalah adik klien terbaik yang Destionation miliki, tentu aku tak akan semarah itu “ sahut pria itu sembari tertunduk dalam. Ia tak pernah mencoba memanggilku Nira, seperti orang lain.
“ Sepertinya iya. Namun, kau tak perlu khawatir. Aku akan menjelaskan semuanya. Namira pasti mengerti. Lagi pula, ia bukan tipe pendendam “ ia tersenyum tipis sembari menggeser kursinya. Jam sembilan malam bukan waktu yang tepat untuk bersantai diluar rumahnya yang nyaman. Gadis itu lebih senang dirumah, menghabiskan waktu guna menatap layar laptop dan membuat jari-jemarinya menari diatas tuts keyboard sembari menyesap cairan coklat muda hangat beraroma melati dan kayu manis.
“ Kau mau kemana? “ tanya pria itu cepat dengan tangan kanan yang menahan jemari Nanira. Menciptakan atmosfer aneh disekelilingnya.

Aku diam tak bergerak. Tubuhku menegang seketika saat merasakan jemarinya menahanku disini. Aku tak mampu meraba perasaanku sendiri. Degub jantung yang terkesan tak normal menandakan sesuatu yang tak beres denganku. Hanya pertautan antara jemari sepasang pria dan wanita, tidak lebih. Namun, mengapa aku merasa seperti ini?. Semuanya terasa gamang, tak dapat kujelaskan. Namun, satu yang pasti. Entah mengapa jemariku terasa begitu pas dalam genggamannya.
***

Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian menahannya sebentar hingga paru-paruku terasa sesak baru kemudian membuangnya. Udara dingin yang mulai tercipta menusuk pelan kulitku. Aku merapatkan kimono modern yang tak berlengan dengan corak piramida warna hitam putih. Sedikit mengikuti gaya anak muda Tumblr yang terlihat chic dengan gaya casual mereka.

“ Dari beratus-ratus juta penduduk Indonesia, kenapa harus lo? “ kataku mencoba bergue-lo. Kutarik napas sekali lagi, mengulangi ritual yang sama. Hal yang selalu kulakukan jika dadaku mulai sesak. Cara aneh yang selalu berhasil meredam emosiku yang terkadang meluap-luap tanpa sanggup terkontrol.
“ Kenapa harus gue. Itu lebih terdengar seperti pernyataan dari pada sebuah pertanyaan “ sahutnya gamang. Aku tak tahu harus memulai pembicaraan ini dari mana. Pelukannya seakan membawaku kembali kemasa-masa suramku. Membawaku ke dalam kebahagian yang berujung jurang kelam.
“ Lo pasti udah tau. Dengar dari siapa?. Ahh, udah pasti Nanira kan, “ aku mencoba menjawab pertanyaanku sendiri. Membiarkan diriku sibuk menerka-nerka. Aku terlalu takut. Menatap matanya saja aku tak berani. Aku tak boleh! Lupakan semuanya. Sudah kuduga, kota ini memang tempat terkutuk.
“ Berhentilah membenci Nanira. Setidaknya, demi gue “ aku melongo kaget saat mendapati manik matanya menatapku tajam. Rahangnya yang keras terkatup rapat. Sembari mengangguk lemah, kutinggalkan pria yang masih menatapku. Akhirnya. Selalu begini.
“ Pulang sama siapa? “ ia bertanya singkat sembari menahanku agar tetap tinggal. Instingku mencium sesuatu. Matanya menatapku datar, namun aku terlanjur mengetahui niatan yang tersembunyi didalamnya.
“ Gue antar pulang, “ tubuhku ditariknya pelan. Aroma maskulin yang menguar dasyat dari tubuhnya membuat kepalaku pening. Bau ini. Rasanya hampir seabad lalu aku menghirupnya. Sungguh, aku seperti mabuk sekarang.

Aku tahu dari awal. Rencananya, sebelum diutarakannya. Terlatih untuk mengamati dirinya dari dulu. Semuanya sudah terlambat. Aku tahu, semenjak malam ini semuanya tak akan sama lagi. Dan aku tak boleh seenaknya pergi meninggalkan kekacauan yang telah ku mulai sendiri. Aku harus melawan. Aku bosan bersembunyi dalam kurun waktu tak menentu, yang entah sampai kapan.

Masa lalu tak akan membuatmu lemah.
Masa lalu tercipta untuk dikenang, bukan untuk disesali.

Setidaknya, aku masih diijinkan Tuhan untuk menyelesaikan semuanya. Sebelum permainan ini berakhir dengan ketiadaanku.

***


Lokasi: Liliba, Oebobo, Kupang, East Nusa Tenggara, Indonesia

2 komentar:

  1. Oh, iya kak. Ini ditulis untuk Gramedia Writing Project. Iseng publish buat ngisi blog yg hampir setahun kosong :D maaf klo sedikit absurd ._.

    BalasHapus

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com