HAK CIPTA ATAS NAMA MARIA VICIENZA
- Dilarang mengcopy paste tanpa seijin penulis -
I
Namira masih ingat
dengan jelas saat dimana ia berdiri disamping ayahnya dengan mata yang
memancarkan kebekuan tak terbantahkan. Suasana sepi terlalu menusuk batinnya,
membuat ia bergerak-gerak gelisah. Lelaki yang ia panggil ayah itu terlalu kaku
untuk memulai pembicaraan. Ia menginginkan tatapannya berbicara terlebih dahulu
pada anak gadisnya, sebelum memutuskan untuk buka suara.
“ Hentikan hobi konyolmu, “ desisnya
tertahan. Manik matanya menangkap ekspresi terkejut yang terlalu kentara.
Gestur anak gadisnya seakan mengisyaratkan ketidakpercayaan atas
pendengarannya.
“ Ayah bilang, hentikan hobi konyolmu
Namira Astarea Atmara! “ suara pria tua itu naik satu oktaf. Dahinya mengkerut,
seakan mencoba menggambarkan bertapa rumit pikirannya sekarang. Anak gadisnya
memilih menjadi seorang fotografer terdengar seperti ide gila yang berbuah
bencana dalam keluarganya.
“ Sebenarnya, apa mau ayah? “ akhirnya
gadis itu buka suara. Kedengaran sedikit bergetar, namun dengan cepat ia
kuasai. Gadis itu harus tetap kuat, setidaknya sampai kakinya memijak ubin
marmer yang bukan lagi bagian dari ruangan ini.
“ Kau tau, ayah sangat terpukul dengan
kepergian Elnino, “ ucapannya menggantung sejenak, membiarkan detik demi detik
bergulir tanpa mampu dicegah. Laki-laki tua itu masih menyimpan sesuatu yang
dikuburnya dalam-dalam. Kekecewaannya, ambisinya. Ia terlalu bijak untuk
melontarkannya dan membuat dunia tahu semuanya.
“ Mira tahu, bahkan sangat tahu. Ayah
begitu terpukul ketika kehilangan pewaris takhta, bukan?. Anak lelaki ayah
satu-satunya, pergi dengan tidak hormat. Aku bahkan masih ingat raut wajah ayah
saat itu. Kecewa karena ambisi ayah tak mampu tersalurkan dengan baik. Apa aku
salah, ayah? “ pertanyaan sarkastiknya mampu membangkitkan amarah pria itu.
Sayang sekali, anak gadisnya terlalu terlatih membaca sifat dan menebak arah
pembicaraannya. Kebiasaanya membiarkan mereka mengerti dan mencerna dalam diam,
pelan-pelan mulai ia sesali.
“ Bicara apa kau, Mira? Seakan kau
mengerti perasaan ayah. Ini hanya perasaan normal seorang ayah yang ditinggal
pergi anaknya. Capmu terlalu buruk, Trea Atmara! “
Tubuh gadis itu menegang. Ia tak percaya,
sang ayah akan memanggilnya dengan sebutan itu, lagi. Kenangan yang coba
dikuburnya perlahan seakan naik ke permukaan, meruntuhkan tembok pertahanan
yang dibangunnya selama ini. Ia benci panggilan itu. Trea Atmara. Rasanya, ia
ingin menanggalkan nama itu. Menggantinya dengan nama yang lebih baik. Nama itu
terlalu hina. Terlalu menjijikkan.
“ Berhenti memanggilku Trea! “ gadis itu
berteriak marah saat egonya diusik.
“ Kenapa? Apa karena, “ pria itu tersenyum
sinis kemudian meludah jijik ke dalam satu-satunya pot tanaman hidup dalam
ruangannya.
“ Kau bahkan lebih menjijikkan!. Seratus
lima puluh persen lebih menjijikkan darinya. Seharusnya aku tahu, pilihanku
salah. Dan kau, tak pantas ku panggil ayah. Permisi tuan Atmara “ gadis itu
melangkah pergi sembari menyeret tas selempangnya yang putus dengan tidak
hormat saat itu juga.
“ Dan soal hobiku, kau tak usah
mengurusinya. Urusi saja dirimu dan anakmu satu-satunya. Karena sejak detik
ini, namaku hanya Namira Astarea. Tanpa embel-embel Atmara di belakangnya.
Terima kasih untuk tidak mencariku, sebelumnya “ gadis itu melangkahkan kakinya
lebar-lebar dan menghentakkan handle pintu berkusen jati didepannya lalu
membantingnya keras-keras, sekuat yang ia bisa.
“ Dia kira siapa dia. Ayah? Aku heran
mengapa ia merasa pantas dipanggil begitu, “
Gadis itu masih menyeret tasnya yang putus
sebelum bahunya menabrak bahu milik orang lain. Keduanya sama-sama terhengkang
kebelakang, kemudian berpegangan pada masing-masing benda yang dapat dijangkau
secepat mungkin lalu mencoba bertumpu padanya.
“ Kamu mau kemana? “ desis suara
didepannya. Lembut, seakan menggambarkan pemiliknya yang tanpa cacat.
“ Bukan urusanmu! “ dengusnya sembari
menyeret tasnya lagi. Tanpa sadar bahunya mulai tergunjang pelan.
Ia menangis. Akhirnya.
***
Mata gadis itu menerawang jauh ke luar
sana. Entah pada jalanan yang basah, dedaunan yang menghijau, atau pada satu
dua manusia yang lewat dengan payung aneka warna ditangan masing-masing. Batok
kepalanya seakan tak cukup besar menampung semuanya. Ia terlalu sering melamun,
lalu tersentak kaget dengan senyum tipis tak kentara. Seperti sekarang,
wajahnya menekuk aneh dengan bibir yang digigit dibagian ujung, seakan
menciptakan gestur khas darinya.
“ Silahkan dinikmati “
Gadis itu mengernyitkan dahi, memutar bola
matanya tanda jengah, pada sosok berseragam merah marun di depannya. Ia
mengangguk kemudian mengalihkan pandangannya lagi. Tenggelam pada dunianya
sendiri. Ia tak begitu gemar melakukan komunikasi singkat seperti tadi. Hanya
anggukan yang dirasa cukup menggantikan kata terima kasih. Mungkin
kesendirian mengajarkannya bagaimana cara untuk menggunakan bahasa isyarat.
Tidak. Dia tidak bisu, hanya berpura-pura bisu pada keadaan. Lebih baik
begini, begitu pikirnya.
“ Ini bukan pesananku. Saya pesan Kopi
Solong, bukan Cappucinno. Maaf, tapi tolong ganti dengan pesanan saya. Lima
belas menit untuk secangkir Kopi Solong! “ ujar gadis itu setelah menyadari
aroma lain yang menguar dari cangkir porselen di depannya.
Lidahnya begitu terlatih saat mengucap
nama salah satu jenis kopi Aceh tersebut. Ada sensasi aneh yang selalu ia
dapatkan dari jenis minuman itu, layaknya candu. Rasa pahit dan panas seakan
membakar tenggorokan, membuatnya melupakan masalah yang menghimpitnya sejenak.
Setiap resapan seakan mengandung kenikmatan tersendiri. Bahkan ampasnya pun,
terlalu sulit dilewatkan. Gadis itu tak pernah peduli ketika banyak orang
beralih pada kopi instan, maupun jutaan variasi kopi aneh lainnya. Kreasi
antara krim, gula, susu, ataupun green tea, tak sekalipun
menggoyahkan kecintaannya pada minuman penuh ampas tersebut. Persetan dengan
kata orang. Mereka selalu bilang, aku terlihat seperti sepuluh kali
lipat lebih tua dari usiaku ketika meminumnya. Layaknya nenek-nenek.
“ Tapi, mbak harus bayar cappucinnonya
juga “ balas sang waitress dengan wajah tertunduk. Ia tak
berani mengangkat wajahnya, bahkan sekedar menatap sosok tinggi langsing didepannya.
“ Apa? Saya harus membayar sesuatu yang
tidak saya pesan?. Begitu maksudmu? “ gadis itu menggeram, kemudian
melangkahkan kakinya dengan angkuh ke arah meja kasir.
“ Mbak, mbak. Mau kemana? “ teriak
sang waitress panik. Aura intimidasi milik gadis itu memenuhi
atmosfer, mengisyaratkan bahaya.
“ Saya mau ketemu manager kamu.
Ternyata cafe ini punya karyawan tolol juga. Saya akan membuatmu..., “ ucapan
gadis itu terhenti seketika saat tangannya, secara tak sengaja menyenggol
kemeja putih milik seorang pria yang tampak terburu-buru.
***
“ Maaf, saya tidak sengaja “
“ Punya mata? Dipake dong, mbak!. Jadi
kotor kan, baju saya “
Lelaki itu menggerang frustasi sembari
menghempaskan tubuhnya keatas sofa beludru di sisi kiri. Tatapan yang menghujam
khas elang seakan mengintimidasi gadis di depannya. Ia sedang berusaha
membersihkan tumpahan cairan berkafein yang tanpa sengaja ikut mengenai
kemejanya. Sang gadis hanya tertunduk, seakan tak sanggup menatap pria bermata
elang itu. Bukan karena takut, lebih karena rasa malu yang membuncah hebat
dalam dadanya. Walaupun terlihat jelas, nyalinya ciut seketika ketika si pria
kembali membuka mulut, namun dengan ekspresi kemarahan yang tergambar amat
jelas didalamnya.
“ Mata lo minus berapa sih? “ lanjut sang
pria setelah terdiam cukup lama.
“ Maaf, mas. Nanti saya ganti, kok “ sahut
gadis tanpa melirik pria disebelahnya.
“ Nanti? Emang kapan kita ketemu?. Gue gak
berani jamin lo masih mau ketemu gue cuman buat ganti rugi “ cibir pria
tersebut sambil berdiri dan mengambil pemantiknya yang tertinggal diatas meja.
“ Mas, saya bukan orang yang tidak
bertanggung jawab! “ gadis itu buka suara sembari menarik beberapa lembar uang
seratusan dari balik dompet warna peach di dalam tasnya.
“ Ini, ganti ruginya. Saya, “
Kalimat gadis muda itu terhenti saat
melihat sosok pria itu berjalan menjauh dan menggangkat tangan kanannya, seakan
tak menuntut ganti rugi. Namun sang gadis terlanjur dongkol dibuatnya.
“ Sok banget tuh orang! Cihh, “
***
Namira memarkir mobil Honda Jazznya asal,
kemudian keluar lalu membanting pintu dengan keras sambil berusaha menyeret
kakinya yang seakan dihisap bumi. Pikirannya sedang kacau. Ribuan peristiwa
buruk seakan menghantuinya sejak kepulangannya ke Indonesia. Ia tak pernah
merasa sekacau ini. Dicerca habis-habisan, dimarahi, lalu dipermalukan dalam
sehari. Bagaimana mungkin ia mampu menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang?.
Rasanya, bahagia terlalu sulit digapai.
“ Jelek banget muka lo! “ teriak Nanira
yang sedang sibuk dengan setumpuk berkas ditangan kirinya.
“ Sok tahu. Gue lagi bahagia banget malah!
“ sahutnya malas, terkesan seperti ironi yang memilukan.
“ Bahagia? Bohong banget. Orang buta aja
tahu muka lo sebelas dua belas sama setrikaan yang ditumpuk setahun. Kenapa
sih, Mir? Cerita sini, dong “ Nanira tak akan berhenti sebelum keinginannya
terpenuhi. Benar-benar tipikal manusia tak pantang menyerah.
“ Cerita apa? Perlu banget ya, Nir gue
cerita soal cowok brengsek yang sok keren? Perlu banget gue cerita semenderita
apa gue di sini? “ Namira mendengus dan beranjak dari tempatnya berdiri. Ia
kehilangan setengah kesadarannya. Kepalanya seakan ingin meledak. Realy
bad day!.
“ Ciehh, yang baru seminggu udah ketemu
cowok keren! Cihuyy “ goda Nanira sambil menirukan gerak ala cupid yang menembakkan
panah asmara.
“ Keren dari Hongkong! Udah ahh, capek
gue. Mau mandi dulu, gerah! “ jawab Namira tak peduli. Diseretnya kaki yang tak
mau melangkah, menaiki hampir dua belas anak tangga ke lantai atas.
“ Nanti sore jadi kan nemenin gue, Mir? “
tanya Nanira.
Tak ada jawaban. Namun ia tahu, saudaranya
pasti meyanggupinya. Nanira tersenyum senang saat melirik foto masa kecilnya
bersama Namira.
Makasih, Mir udah mau balik ke Indonesia.
Gue gak tau bakal gimana lagi tanpa lo.
***
Gadis itu masih berkutat dengan gulingnya.
Alunan musik instrument Forever in Love memenuhi atmosfer. Ia
terlalu mendewakan Kenny G yang entah mengapa selalu tampak keren jika
memainkan alat musik tiupnya.
“ Mir, Mira. Bangun dong, udah sore nih.
Lo udah janji kan mau nemenin gue? “
Seorang wanita berusia awal dua puluhan
menerobos masuk, mematikan Ipod warna biru metalik dengan aksen glitter perak
yang berdiri begitu tegak diatas rak coklat tua penuh buku. Ia tersenyum
hangat, menyibakkan hampir separuh selimut putih yang masih membungkus rapat
tubuh mungil didalamnya.
“ Ra, gue gak tau ternyata lo
semenyebalkan ini! “ erang sang gadis sambil melepaskan separuh selimut yang
masih melilit tubuhnya. Ia berjalan mundur kemudian meraih gagang pintu kaca di
depannya, lalu masuk.
***
Aku masih melirik wanita disampingku ini.
Dengan dress hijau muda selutut dan belt hitam yang melingkari pinggangnya
membuatnya terlihat begitu anggun. Ia hampir membuatku menelan ludah saking
irinya. Miris memang! Ia kembaranku namun nyatanya kami benar-benar berbanding
terbalik. Aku, seorang Namira Astarea. Tak ada yang begitu istimewa dariku. Aku
ya aku, begitu pikirku. Hanya seorang gadis yang beruntungnya hidup di abad
ke-21 namun tidak tahu bagaimana caranya memakai maskara serta seluruh
kerabatnya yang lain. Dan tentu saja, aku penikmat kopi pahit sejati! Selera
yang aneh memang. Namun aku begitu mencintai aroma kopi hitamku yang berampas.
“ Kita mau kemana sih? Kram pantat gue! “
aku bersungut sambil menjentikkan jari ke permukaan dashboar mobil, berharap
cemas kalau-kalau ada laci tersembunyi yang terbuka dan dengan amat sangat
kebetulan berisi makanan. Hey! Aku belum makan dari siang tadi!.
“ Nira! Gue laper. Stop dulu dong. Di
McDonals kek, KFC kek, apa kek. Perut gue konser mulu nih! “ aku berteriak
putus asa sambil melirik Namira yang tak ambil pusing –lebih kejamnya
berpura-pura tak perduli- sedang melajukan mobil tanpa berusaha melirikku,
sedikitpun!.
“ Bentar lagi nyampe kok. Nah, itu dia “
teriak Namira girang.
Mobil kami memasuki lapangan parkir yang
tidak luas, namun kurasa cukup untuk menampung 20 mobil seperti mobil milikku
ini. Setidaknya, para pengunjung tidak mungkin membawa truck guna memuat
seluruh anggota keluarga mereka untuk makan bersama.
“ Lo yang traktir ya! Awas lo! “
Setelah mengamcam Nanira, aku pergi
meninggalkannya yang masih tepaku di tempat. Converse selalu membuatku nyaman
sebab ia tak perlu hak untuk menjadikannya benar-benar keren di kakiku.
Mengambil tempat paling sudut, aku berusaha untuk menikmati setiap alunan nada
yang keluar dari dentingan piano yang dimainkan oleh seseorang bertopi coklat
muda diatas panggung kecil dekat meja kasir. Tanpa sadar, aku memejamkan mata.
Indra penciumanku seakan ikut menikmati sensasi aromatherapy yang
menguar hebat, wangi lavender. Aku nyaris sukses melupakan masalah yang
menimpaku seharian sebelum akhirnya sebuah tepukkan pelan mendarat di bahu
kananku.
“ Mir, keren banget ya. Liat tuh yang main
saxophone di depan! “ aku menoleh, mengikuti pandangan Nanira yang lebih mirip
anak kelinci dari pada seorang wanita karir dewasa.
Aku diam. Tanpa sadar, kepalaku bergoyang
rileks mengikuti irama saxophone yang ditiup pria tadi. Jujur, aku kagum saat
ia dengan gesitnya memainkan dua alat musik bersamaan. Sungguh, alunan
instrumen dari Kenny G terdengar indah di telingaku. Aku tersenyum tipis,
mengingat kebiasaanku memutar Forever in Love dikala rasa
kantuk belum kunjung tiba dan Gotcha!. Tak kusangka makan
malamku kali ini akan ditemani dengan lantunan maha karya terhebat sepanjang
masa.
“ Kau benar-benar mempesona! “ aku
terdiam. Kaget. Mataku membelalak tak percaya saat saudara kembarku berdiri
kemudian berlari dan menghamburkan diri ke dalam pelukan pria bertopi coklat
tadi. Jujur, (menurutku) adegan tadi terkesan kekanak-kanakkan.
Mereka tidak ingin casting drama Korea
kan? Kenapa Nanira harus seperti anak TK yang ditinggalkan ayahnya untuk wajib
militer?.
“ Namira! Kemari, aku akan mengenalkanmu
pada pria idolamu! “ aku memutar bola mataku jengah. Hey! Apa lagi
ini?. Sialan! Aku rasa wajahku memerah sekarang. Bagaimana mungkin
Nanira berteriak heboh seperti itu?. Aku baru saja melihat permainannya,
sedikit tertarik dan dengan begitu gampangnya Nanira mengambil keputusan untuk
mengumumkan kegagumanku pada pria bertopi coklat itu?. Ya ampun! Nanira
sialan!.
“ Kau ini! Kenapa tidak berdiri? Gris
menunggumu, Mira. Kamu benar-benar memaksa idolamu datang menemuimu rupanya, “
pekik Nanira girang sembari menarik kursi di depanku.
“ Aku tidak meng... “ ucapanku terputus
saat mataku bersiborok dengan lensa coklat tua di depanku. Darahku seakan
berhenti mengalir. Kakiku melemah, seakan tak mampu menopang berat
tubuhku. Kenapa harus sekarang?.
“ Kau! “ tunjuk kami bersamaan. Aku jatuh
terduduk dengan cara yang memalukan, dengan wajah khas orang speechless, mata
membelalak lebar dan mulut yang menganga maksimal seakan minta di hinggapi
lalat.
“ Kenapa kau bisa di sini? “ jari
telunjuknya diarahkan tepat pada wajahku. Alisnya saling bertaut, menuntut
penjelasan lebih.
“ Bagus! Aku diposisikan sebagai orang
yang akan diinterogasi. Hey, boy! Berhentilah bertingkah seakan-akan tatapanmu
mampu mengintimidasiku. Seharusnya itu pertanyaanku! Mengapa kau bisa di sini?
Bergabung dan merusak acara makan malamku dengan saudaraku, hah? “ ucapku
sinis. Beraninya dia menatapku seperti itu. Seakan akulah orang asing yang
harus dipertanyakan keberadaannya, kemudian ditendang keluar.
“ Saudaramu?. Nanira, tolong jelaskan
padaku. Tidak mungkin singa betina ini saudaramu! “ kini gantian ia yang
melongo heran.
“ Tidakkah wajah kami sudah cukup
menjelaskan semuanya?. Kalau begitu aku permisi! “ aku berteriak kasar sembari
mengambil I-Podku diatas meja dan keluar begitu saja.
Dasar pria brengsek! Sialan. Apa maksudnya
dengan julukan “ Singa Betina “?. Apa Nanira terlihat begitu anggun layaknya
kupu-kupu?. Apa wajahku terlalu buruk untuk disandingkan dengannya?.
Air mataku menetes. Ini hal yang
seharusnya ku hindari.
Ya, tidak seharusnya aku di sini. Ini
bukan tempatku dan Nanira bukanlah tandinganku.
Entah mengapa, rasanya aku mulai
merindukan London.
***
Aku meledak. Benar-benar meledak sekarang.
Satu sepakkan dari Converse kesayanganku ini mampu memporak-porandakan seluruh
isi tong sampah di depanku. Isinya tumpah ruah. Dua ekor kucing, entah betina
atau jantan, berlari menjauh sambil memperdengarkan raungan melengking seakan
memakiku yang telah dengan kejamnya merenggut waktu santap malam mereka. Masa
bodoh!. Aku manusia dan aku berkuasa.
“ Itu tong sampah hasil swadaya masyarakat.
Dan kucing itu, apa mereka bersalah padamu? “ aku mendelik kesal saat mendengar
suara berat yang terkesan serak di belakangku. Berbalik dengan tatapan jengkel
maksimal, kutatap tubuh jangkung yang sedikit kurus di depanku. Bayangannya
seakan bersatu dengan pekatnya malam.
“ Dan apa masalahmu? Kau tuannya?. Ohh,
seharusnya kau mengurusi peliharaanmu itu! jorok sekali! “ aku memaki pria di
depanku ini. Wajahnya tak begitu kentara. Aku terlalu malas mendongkakkan
kepalaku demi menatap pria ini. Tinggiku tak lebih dari bahunya.
“ Namira? Namira Astarea, kan? “ aku
mundur selangkah. Terkejut saat namaku di sebut.
“ Atau aku salah?. Gak mungkin kamu
Nanira. Right? “ aku tersenyum masam. Lagi-lagi Nanira. Semua
orang selalu fokus padanya. Aku hanya dijadikan selingan. Bahkan, pria tiang
listrik ini juga membawa nama Nanira. Entah sampai kapan aku harus hidup di
bawah bayang-bayang saudara kembarku sendiri. Aku muak!.
“ Maaf. Jika anda ingin menyampaikan salam
untuk Nanira, aku bukanlah tukang pos atau sejenisnya. Permisi dan maaf soal
kucing anda. Lupakan, aku memang bukan Nanira yang selalu berbicara lembut pada
lawan bicaranya! “
Aku berlari kecil menyusuri lorong sempit
ini. Tak terasa mataku memanas dan pandanganku mengabur. Aku berhenti,
bersandar pada tembok kasar yang penuh lumut kering. Kutarik napas perlahan,
mencoba meredakan sakit yang menghujam hatiku. Kembali terisak, kupandangi
langit malam tanpa bintang.
“ Kayaknya bentar lagi hujan deh, “ aku
terdiam saat mendengar suara itu kembali menyapaku, ikut bergabung dalam
kesendirianku. Tangannya dijadikan alas kepala, ia tak menatapku. Matanya masih
memandang langit hitam pekat yang menggantung tanpa ujung diatas sana. Semilir
angin dingin menerpa wajahku. Benar, sepertinya orang ini pawang hujan. Aku
merubah arah pandanganku ke bawah dan menatap kakinya yang disilangkan. Sedikit
terbersit rasa haru, saat melihat sepatu yang dikenakannya persis seperti
punyaku, hanya saja dengan ukuran yang tentu saja berbeda.
“ Sampai kapan kamu lari dari kenyataan,
Mir? “ lanjutnya. Suaranya berubah pelan, seakan takut menyinggungku. Dan benar
saja, tujuan awalnya berhasil. Aku sukses dibuatnya tersinggung!.
“ Siapa kau sebenarnya?. Jangan sok kenal!
“ aku berhenti menyandarkan tubuhku di tembok dan memberanikan diri menatap
manik matanya. Aku tersentak kanget.
“ Devan? Kamu Devano Tamayada? “ suaraku
tercekat saat mendapati sosok itu. Sosok yang membawaku kembali kedalam masa
penuh penderitaan.
“ Selamat datang kembali, Namira Astarea,
“ ucapnya merengkuhku. Sementara aku hanya diam tak bergeming.
***
Desain interior cafe seakan mampu
mengalihkan kegusaran Nanira sejenak. Gadis itu masih mengamati dekorasi cafe
yang modern dan tenang. Tembok dengan gabungan antara warna peach yang
dikolaborasikan dengan citrus orange menjadi tempat pelampiasannya. Matanya
masih menelisik setiap benda di dalam ruangan lebar tempat kakinya berpijak
sebelum manik matanya berhenti pada satu titik yang bergitu menguncinya. Mata
pria itu.
“ Maafkan aku. Jujur, aku tak bermaksud
menyakiti saudaramu. Aku hanya tidak percaya akan kebetulan yang kualami. Dunia
terasa begitu sempit. Sekali lagi, maaf. Kau tahu dengan benar diriku yang
sebenarnya, “ lelaki didepannya melepas topi coklat yang sedari tadi melekat
dengan manis di kepalanya, menutup hampir separuh kepalanya.
“ Ya, aku tahu. Kau tidak perlu merasa
bersalah. Aku yang salah. Tidak seharusnya kupaksa dia untuk bergabung malam
ini dan membuat semuanya serba kacau. Seharusnya aku yang minta maaf telah
membuatmu merasa terhina seperti ini, Gris“ ujar Nanira sembari meremas lipitan
dress hijau toscanya. Perpaduan antara rasa gugup, cemas, gelisah, malu, serta
berbagai rasa yang seakan tak mampu dideskripsikannya dengan baik, melingkupi
perasaannya. The bad satnight ever, keluhnya dalam hati.
“ Apakah ucapanku menyinggungnya?. Ia
terlihat benar-benar marah tadi. Aku menyesal, Nanira. Aku memanggilnya dengan
sebutan yang tidak pantas. Maaf, jika saja aku tahu yang menumpahkan kopi ke
bajuku beberapa hari lalu adalah adik klien terbaik yang Destionation miliki,
tentu aku tak akan semarah itu “ sahut pria itu sembari tertunduk dalam. Ia
tak pernah mencoba memanggilku Nira, seperti orang lain.
“ Sepertinya iya. Namun, kau tak perlu
khawatir. Aku akan menjelaskan semuanya. Namira pasti mengerti. Lagi pula, ia
bukan tipe pendendam “ ia tersenyum tipis sembari menggeser kursinya. Jam
sembilan malam bukan waktu yang tepat untuk bersantai diluar rumahnya yang
nyaman. Gadis itu lebih senang dirumah, menghabiskan waktu guna menatap layar
laptop dan membuat jari-jemarinya menari diatas tuts keyboard sembari
menyesap cairan coklat muda hangat beraroma melati dan kayu manis.
“ Kau mau kemana? “ tanya pria itu cepat
dengan tangan kanan yang menahan jemari Nanira. Menciptakan atmosfer aneh
disekelilingnya.
Aku diam tak bergerak. Tubuhku menegang
seketika saat merasakan jemarinya menahanku disini. Aku tak mampu meraba
perasaanku sendiri. Degub jantung yang terkesan tak normal menandakan sesuatu
yang tak beres denganku. Hanya pertautan antara jemari sepasang pria dan
wanita, tidak lebih. Namun, mengapa aku merasa seperti ini?. Semuanya terasa
gamang, tak dapat kujelaskan. Namun, satu yang pasti. Entah mengapa jemariku
terasa begitu pas dalam genggamannya.
***
Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian menahannya
sebentar hingga paru-paruku terasa sesak baru kemudian membuangnya. Udara
dingin yang mulai tercipta menusuk pelan kulitku. Aku merapatkan kimono modern
yang tak berlengan dengan corak piramida warna hitam putih. Sedikit mengikuti
gaya anak muda Tumblr yang terlihat chic dengan
gaya casual mereka.
“ Dari beratus-ratus juta penduduk
Indonesia, kenapa harus lo? “ kataku mencoba bergue-lo. Kutarik napas sekali
lagi, mengulangi ritual yang sama. Hal yang selalu kulakukan jika dadaku mulai
sesak. Cara aneh yang selalu berhasil meredam emosiku yang terkadang
meluap-luap tanpa sanggup terkontrol.
“ Kenapa harus gue. Itu lebih terdengar
seperti pernyataan dari pada sebuah pertanyaan “ sahutnya gamang. Aku tak tahu
harus memulai pembicaraan ini dari mana. Pelukannya seakan membawaku kembali
kemasa-masa suramku. Membawaku ke dalam kebahagian yang berujung jurang kelam.
“ Lo pasti udah tau. Dengar dari siapa?.
Ahh, udah pasti Nanira kan, “ aku mencoba menjawab pertanyaanku sendiri.
Membiarkan diriku sibuk menerka-nerka. Aku terlalu takut. Menatap matanya saja
aku tak berani. Aku tak boleh! Lupakan semuanya. Sudah kuduga, kota ini
memang tempat terkutuk.
“ Berhentilah membenci Nanira. Setidaknya,
demi gue “ aku melongo kaget saat mendapati manik matanya menatapku tajam.
Rahangnya yang keras terkatup rapat. Sembari mengangguk lemah, kutinggalkan
pria yang masih menatapku. Akhirnya. Selalu begini.
“ Pulang sama siapa? “ ia bertanya singkat
sembari menahanku agar tetap tinggal. Instingku mencium sesuatu. Matanya
menatapku datar, namun aku terlanjur mengetahui niatan yang tersembunyi
didalamnya.
“ Gue antar pulang, “ tubuhku ditariknya
pelan. Aroma maskulin yang menguar dasyat dari tubuhnya membuat kepalaku
pening. Bau ini. Rasanya hampir seabad lalu aku menghirupnya.
Sungguh, aku seperti mabuk sekarang.
Aku tahu dari awal. Rencananya, sebelum
diutarakannya. Terlatih untuk mengamati dirinya dari dulu. Semuanya sudah
terlambat. Aku tahu, semenjak malam ini semuanya tak akan sama lagi. Dan aku
tak boleh seenaknya pergi meninggalkan kekacauan yang telah ku mulai sendiri.
Aku harus melawan. Aku bosan bersembunyi dalam kurun waktu tak menentu, yang
entah sampai kapan.
Masa lalu tak akan membuatmu lemah.
Masa lalu tercipta untuk dikenang, bukan
untuk disesali.
Setidaknya, aku masih diijinkan Tuhan
untuk menyelesaikan semuanya. Sebelum permainan ini berakhir dengan
ketiadaanku.
***
